Ini adalah sebuah cerita dari Negeri Tetangga (BuloE) yang saya copas dari Koran Tempo Edisi Senin, 25 Oktober 2010, Liputan Andi Pajung. Dengan Judul: Ketua Komisi III Kunjungi Warga Miskin Wajo
“Kalau beras saya habis, saya tidak makan sampai badan saya gemetaran karena kelaparan.”
WAJO — Prihatin mendengar kondisi Ilaweng, 50 tahun, warga miskin di Kelurahan Dualimpoe, Kecamatan Maniangpajo, Wajo, Ketua Komisi III Bidang Kesejahteraan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Husniati secara khusus mengunjunginya Sabtu lalu. Dalam kunjungannya, Husniati memberikan bantuan uang untuk memperbaiki rumah.
“Selama ini Ilaweng memang sudah mendapat bantuan raskin dari pemerintah. Namun diharapkan nantinya ia juga bisa mendapatkan bantuan rehabilitasi rumah,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini. Ia
berjanji akan menyampaikan kondisi Ilaweng pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Ilaweng menceritakan, untuk dapat bertahan hidup, ia hanya mengandalkan bantuan dan belas kasih tetangganya. Sebab, ia tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia tak mampu bekerja karena sakit.
“Untuk makan, saya biasa hanya dikasih oleh tetangga beras satu hingga dua liter,”ujarnya. Ia bahkan sering tidak makan hingga dua hari.“Kalau beras saya habis, saya tidak makan sampai badan saya gemetaran karena kelaparan.”
Rumah Ilaweng hanya beratapkan daun rumbia.Kondisinya sudah mulai lapuk. Ia tak mampu memperbaiki rumahnya karena untuk makan pun ia kesulitan. Beras miskin dari pemerintah sulit didapatkan, karena beras itu harus dibeli.“Beras itu biasa saya beli Rp 50. Uangnya saya pinjam. Jadi, untuk mengembalikan uang yang saya pinjam itu, saya jual lagi berasnya,”ujarnya
Andi Tenriliweng, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, mengatakan pada 2010 ini, pihaknya belum menangani seluruh warga miskin. Tahun depan ia berencana membuat program bagi warga miskin berupa bantuan dana untuk modal usaha atau bantuan ternak agar warga dapat meningkatkan perekonomiannya.
“Kalau kita bantu dengan bantuan yang sifatnya hanya sementara, itu tidak akan menyelesaikan masalah” ujarnya. Ia mengatakan salah satu kendala yang dihadapi dalam pemberdayaan warga miskin adalah mereka tidak punya keinginan bekerja serta tak mempunyai keahlian. “Mau dibawa ke panti dia juga tidak mau. Jadi, orang seperti ini hanya kita bantu dengan dana tanggap darurat saja untuk sementara.”
Disinggung mengenai Ilaweng, Tenriliweng berjanji akan mengecek langsung ke tempat yang bersangkutan. Saat ini, kata dia, jumlah warga miskin di Wajo mencapai 16.108 kepala keluarga. Hal ini berbeda dengan data dari Sahran, Kepala Bidang Kesetiakawanan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Ia mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah warga miskin di Wajo sebanyak 19.085 keluarga. Tahun ini baru diprogramkan bantuan tambahan modal usaha pada 15 kelompok atau sekitar 150 kepala keluarga di Kecamatan Sabbang Paru dan Gilireng.
Sudirman, Sekretaris Forum Aliansi Mayarakat Peduli Kemiskinan (Al-Maun) Wajo, mengatakan dengan ditemukannya
warga miskin seperti Ilaweng ini, program pengentasan rakyat miskin yang selama ini digembar-gemborkan oleh pemerintah pusat dan daerah tidak terbukti. Walaupun kejadian ini tidak dapat disimpulkan sebagai representasi kegagalan pengentasan rakyat miskin oleh pemerintah secara keseluruhan, menurut dia, minimal dapat dijadikan bahan evaluasi kebijakan program pengentasan rakyat miskin yang sedang berjalan saat ini.
“Agar pengentasan kemiskinan bukan hanya sebatas slogan saja. Sepatutnya pemerintah harus mempunyai strategi dan data riil mengenai kemiskinan,”katanya. Jumlah warga miskin pada 2009 sebanyak 19.085 keluarga itu, kata dia, sama dengan 20 persen dari 380 ribu warga Wajo.
● ANDI PAJUNG