Selamat Datang di Republik Lakadaung

Lakadaung

republik-lakadaung1.gif

Posisi Lakadaung

Republik Lakadaung (bukan sebuah negara) didirikan untuk mewadahi WIJA TAU LAKADAUNG dalam berbicara tentang daerahnya sendiri. Inilah tempat mangkal orang Lakadaung dan hanya Lakadaung disini.

Ada pertanyaan dari Putera Lakadaung seperti yang dikutip dari Facebook berikut ini:

  • Dhy Chady  Ada apa dengan generasi muda lakadaung saat ini ??
Ada pula tantangan seperti ini:
  • Emtawvic Topi  anak lakadaung terjebak dalam ZONA AMAN. apa ada yang berpikir untuk MENEMBUS BATAS
.
Semuanya akan terjawab di Komunitas ini. Olehnya itu mari berceloteh, bercerita, berbagi pengalaman tentang Lakadaung disini. Ya, di Republik Lakadaung. Bergabunglah di Group Republik Lakadaung pada Situs Jejaring Sosial Facebook. Caranya: Klik alamat berikut: http://www.facebook.com/home.php?sk=group_110814369005490&ap=1 dan nikmati indahnya berbagi cerita bersama saudara-saudari kita WIJA TAU LAKADAUNG, diantaranya: Baca lebih lanjut

Masjid Jami Nurul Amin Lakadaung

Terima kasih kepada Pung Sulaiman Tekka yang mengirimkan foto Masjid Jami Nurul Amin Lakadaung di Grup Facebook Republik Lakadaung

Alhamdulillah....kami sangat kagum mesjidnya megah dan jamaahnya banyak,,semoga Allah senantiasa menurunkan berkah di kampung ini...

Alhamdulillah….kami sangat kagum mesjidnya megah dan jamaahnya banyak,,semoga Allah senantiasa menurunkan berkah di kampung ini…

Sejarah Kelurahan DualimpoE

Dualimpoe adalah kelurahan di Kecamatan Maniangpajo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Indonesia.

Sejarah Laju’ adalah kampung yang mula-mula didiami oleh penduduk. Pada suatu ketika penduduk kampung tersebut terkena musibah penyakit (SAI = Bahasa Bugis), maka masyarakat meninggalkan kampung tersebut atas dorongan pemimpinnya yang bernama La Tappu Dg. Patekke. Oleh pemimpinnya memilih bukit yang berhutan bambu yang disebut BULO dan disinilah menetap dan dinamai kampung BULOE. Orang pertama yang memimpin kampung tersebut bernama Guliga.

Baca lebih lanjut

Wakil Bupati Wajo Buka Maniangpajo Nuansa Islam 1432 H

Remaja adalah sekelompok masyarakat yang selalu ingin mencoba hal yang baru. Dengan ketatnya persaingan di era sekarang ini, dimana kondisi remaja berada pada posisi masa transisi yang menyiratkan sebuah harapan dan peringatan agar remaja dapat bermuhasabah untuk melakukan evaluasi diri secara kritis, dengan menghasilkan gebrakan-gebrakan yang baru. Demikian yang disampaikan oleh Pengurus Ikatan Pemuda Remaja Muslim Maniangpajo (IPRMM), Dinar Syam AMP sesaat sebelum pembukaan Lomba Generasi Muslim “Maniangpajo Nuansa Islam 1432 H”, Selasa (9/8) di Masjid Jami Nurul Amin Lakadaung Kelurahan DualimpoE Kecamatan Maniangpajo.
Maniangpajo Nuansa Islam 1432 dalam bentuk lomba generasi muslim pada tahun ini, dilaksanakan untuk yang kedua kalinya. Sebelumnya dilaksanakan pada tahun 1430 H, dua tahun yang lalu. Kegiatan ini memperebutkan piala bergilir Wakil Ketua DPRD Kabupaten Wajo, Ir. Junaedi Muhammad untuk lomba tingkat taman kanak-kanak; piala bergilir Wakil Bupati Wajo, H. Amran Mahmud, S.Sos., M.Si. untuk lomba tingkat sekolah dasar; piala bergilir Bupati Wajo, H. Andi Burhanuddin Unru, M.M. untuk lomba tingkat sekolah menengah pertama; dan piala bergilir Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Ir. Doddy Amiruddin untuk lomba tingkat sekolah menengah atas dan umum.
Menurut Dinar, asal usul pelaksanaan kegiatan ini, setelah kesuksesan kegiatan Maniangpajo Nuansa Islam 1429 H menghadirkan Anggota DPD asal Sulawesi Selatan H. Azis Qahar Muzakkar dalam kegiatan Tabliq Akbar. Selanjutnya setahun berikutnya berkat kerjasama dengan KKN Universitas Hasanuddin Makassar dikemas dalam bentuk perlombaan, dan pada tahun ini IPRMM kembali melanjutkan kegiatan tersebut atas kerjasama dengan Mahasiswa KKN Reguler Universitas Negeri Makassar Angkatan XXV kelurahan DualimpoE.
Sementara itu, Wakil Bupati Wajo H. Amran Mahmud yang hadir membuka kegiatan ini, berharap agar kegiatan ini menjadi suatu ajang pembinaan kreatifitas generasi muda guna peningkatan prestasi baik untuk prestasi diri menuju akhlakul karimah. Amran pun percaya, kegiatan ini menjadi ajang pembinaan generasi muslim khususnya di Kecamatan Maniangpajo, apalagi yang dilibatkan dalam lomba mulai dari Taman Kanak-kanak hingga SMA dan umum
Hingga berita ini dikirim, kegiatan lomba masih berlangsung. Rencananya kegiatan ini akan ditutup oleh Ketua DPRD Kabupaten Wajo, H. Yunus Panaungi, S.H. pada Selasa (16/8) yang dirangkaikan dengan malam Nuzulul Quran di Masjid Jami Nurul Amin Lakadaung Kelurahan DualimpoE Kecamatan Maniangpajo.

Indoq Masseq dan Tradisi “Massureq”

Indo Masse

Ki pemmagai lobbang linoe’,

bere-bere teng lolo tona,

manuq-manuq teng luttuq tona…

KOMPAS.comPenggalan syair dari kitab La Galigo itu melantun indah dari mulut Indoq Masseq. Suara lembut perempuan itu sesekali terdengar tinggi melengking seperti orang mengaji.

Alunan berirama ratusan suku kata itu memecah keheningan rumah panggung di Desa Buloe, Kecamatan Maniangpajo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Seni melantunkan syair La Galigo disebut massureq.

La Galigo adalah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulsel, yang ditulis dengan aksara Bugis Lontara berbentuk puisi berbahasa Bugis kuno. Isinya asal usul penciptaan manusia dan berbagai petuah bijak yang dijunjung tinggi masyarakat Bugis.

Dengan kesakralan itu, La Galigo menjadi kitab suci penganut Hindu Tolotan dalam masyarakat Bugis sebelum Islam disebarluaskan di Sulsel. Aliran kepercayaan itu masih dianut sebagian warga di daerah tempat tinggal Indoq Masseq di Desa Buloe, sekitar 19 kilometer dari ibu kota Kabupaten Wajo, Sengkang.

Massureq masih kerap dilakukan pada sejumlah upacara adat, seperti maddoja bine (menabur benih padi di sawah), mappaenreq bola (selamatan rumah baru), mappabotting (pernikahan), dan macceraq arajang (selamatan benda pusaka).

Saat kekeringan melanda Kecamatan Maniangpajo pada akhir 1960-an, warga menganggap hal itu dipicu oleh tak adanya massureq. Sejumlah pelantun massureq sebelum masa itu, seperti I Tasik, I Ganda, I Susang, dan La Semang, sudah meninggal. Mereka tak menurunkan ilmu massureq.

Kondisi ini menggugah Indoq mempelajari massureq dari Ruseng, sang mertua yang menguasai ajaran La Galigo, pada tahun 1968. Awalnya, ia kesulitan karena bahasa dalam La Galigo sarat makna idiom dan kiasan. Namun, dengan semangat dan ketekunan, Indoq mampu menguasai massureq dalam tiga tahun.

Ia—kala itu berusia 26 tahun—mulai dipercaya melantunkan syair La Galigo dalam upacara penaburan benih padi di sawah. Penampilan perdana itu disambut warga sebab ia mampu melantunkan syair La Galigo semalam suntuk tanpa diiringi alat musik sesuai aturan. Hal itu juga menumbuhkan kepercayaan diri Indoq untuk tampil dalam berbagai upacara adat di Kecamatan Maniangpajo dan di Kabupaten Wajo.

Dalam setiap pementasan massureq, ia mendapat imbalan bahan pangan, seperti beras, ayam, daging sapi, ketan, dan pisang.

Baca lebih lanjut

Cerita dari Negeri Tetangga

Ini adalah sebuah cerita dari Negeri Tetangga (BuloE) yang saya copas dari Koran Tempo Edisi Senin, 25 Oktober 2010, Liputan Andi Pajung. Dengan Judul: Ketua Komisi III Kunjungi Warga Miskin Wajo

“Kalau beras saya habis, saya tidak makan sampai badan saya gemetaran karena kelaparan.”

WAJO — Prihatin mendengar kondisi Ilaweng, 50 tahun, warga miskin di Kelurahan Dualimpoe, Kecamatan Maniangpajo, Wajo, Ketua Komisi III Bidang Kesejahteraan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Husniati secara khusus mengunjunginya Sabtu lalu. Dalam kunjungannya, Husniati memberikan bantuan uang untuk memperbaiki rumah.

“Selama ini Ilaweng memang sudah mendapat bantuan raskin dari pemerintah. Namun diharapkan nantinya ia juga bisa mendapatkan bantuan rehabilitasi rumah,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini. Ia
berjanji akan menyampaikan kondisi Ilaweng pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Ilaweng menceritakan, untuk dapat bertahan hidup, ia hanya mengandalkan bantuan dan belas kasih tetangganya. Sebab, ia tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia tak mampu bekerja karena sakit.

“Untuk makan, saya biasa hanya dikasih oleh tetangga beras satu hingga dua liter,”ujarnya. Ia bahkan sering tidak makan hingga dua hari.“Kalau beras saya habis, saya tidak makan sampai badan saya gemetaran karena kelaparan.”

Rumah Ilaweng hanya beratapkan daun rumbia.Kondisinya sudah mulai lapuk. Ia tak mampu memperbaiki rumahnya karena untuk makan pun ia kesulitan. Beras miskin dari pemerintah sulit didapatkan, karena beras itu harus dibeli.“Beras itu biasa saya beli Rp 50. Uangnya saya pinjam. Jadi, untuk mengembalikan uang yang saya pinjam itu, saya jual lagi berasnya,”ujarnya

Andi Tenriliweng, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, mengatakan pada 2010 ini, pihaknya belum menangani seluruh warga miskin. Tahun depan ia berencana membuat program bagi warga miskin berupa bantuan dana untuk modal usaha atau bantuan ternak agar warga dapat meningkatkan perekonomiannya.

“Kalau kita bantu dengan bantuan yang sifatnya hanya sementara, itu tidak akan menyelesaikan masalah” ujarnya. Ia mengatakan salah satu kendala yang dihadapi dalam pemberdayaan warga miskin adalah mereka tidak punya keinginan bekerja serta tak mempunyai keahlian. “Mau dibawa ke panti dia juga tidak mau. Jadi, orang seperti ini hanya kita bantu  dengan dana tanggap darurat saja untuk sementara.”

Disinggung mengenai Ilaweng, Tenriliweng berjanji akan mengecek langsung ke tempat yang bersangkutan. Saat ini, kata dia, jumlah warga miskin di Wajo mencapai 16.108 kepala keluarga. Hal ini berbeda dengan data dari Sahran, Kepala Bidang Kesetiakawanan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Ia mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah warga miskin di Wajo sebanyak 19.085 keluarga. Tahun ini baru diprogramkan bantuan tambahan modal usaha pada 15 kelompok atau sekitar 150 kepala keluarga di Kecamatan Sabbang Paru dan Gilireng.

Sudirman, Sekretaris Forum Aliansi Mayarakat Peduli Kemiskinan (Al-Maun) Wajo, mengatakan dengan ditemukannya
warga miskin seperti Ilaweng ini, program pengentasan rakyat miskin yang selama ini digembar-gemborkan oleh pemerintah pusat dan daerah tidak terbukti. Walaupun kejadian ini tidak dapat disimpulkan sebagai representasi kegagalan pengentasan rakyat miskin oleh pemerintah secara keseluruhan, menurut dia, minimal dapat dijadikan bahan evaluasi kebijakan program pengentasan rakyat miskin yang sedang berjalan saat ini.

“Agar pengentasan kemiskinan bukan hanya sebatas slogan saja. Sepatutnya pemerintah harus mempunyai strategi dan data riil mengenai kemiskinan,”katanya. Jumlah warga miskin pada 2009 sebanyak 19.085 keluarga itu, kata dia, sama dengan 20 persen dari 380 ribu warga Wajo.

● ANDI PAJUNG

Succes Story

Paragai dan Paisal sedang melaksanakan Penyamaian Benih Padi

Inilah cerita kesuksesan Petani Kelurahan DualimpoE pada umumnya dan Republik Lakadaung pada khususnya sebagai percontohan Prima Tani di Kabupaten Wajo yang saya copas dari Situs Litbang Departemen Pertanian RI

  1. primatani-lahan-sawah-semi-intensifdi-kabupatenwajo
  2. wajo

untuk membaca cerita kesuksesan tersebut, silakan klik tulisan yang berlink (bergaris bawah) diatas. Baca pula Komitmen Sebagai Awal Keberhasilan untuk cerita yang sudah diposting di Republik Lakadaung sebelumnya

Putusan Mahkamah Agung RI No. 986 K/Pdt/2001

Berikut ini adalah Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia terhadap perkara tanah oleh lima orang warga Republik Lakadaung dan telah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Kamis tanggal 29 Maret 2007 oleh German Hoediarto, SH. Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, M. Bahaudin Qaudry , SH. dan H. Muhammad Taufik, SH. Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim-Hakim Anggota tersebut dan dibantu oleh Sumpeno, SH., MH. Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh warga tersebut.

Putusan bernomor 986 K/Pdt/2001 dapat dibaca/diunduh disini (silakan klik: 986-K-PDT-2001)

Sumber: putusan.mahkamahagung.go.id

Polres Ringkus 2 Curanmor

Berikut ini, sebuah berita dari Redaksi Palopo Pos, yang didalamnya terdapat kata “LAKADAUNG”

SENGKANG – Kepolisian Resort (Polres) Wajo meringkus dua orang lagi pelaku pencurian kendaraan motor (Curanmor). Masing-masing Wa’tana (40) dan Adi (23). Keduanya digrebek ditempat yang sama disebuah rumah di Lakadaung Kelurahan Dua LimpoE, Kecamatan Maniangpajo, sekitar pukul 17.30, Rabu 1 Juni, kemarin.

Polisi menduga kedua pelaku yang sudah menjadi tersangka ini merupakan komplotan pencuri yang memiliki jaringan besar. Sebab, kedua pelaku bersama ketiga rekannya yang saat ini masih buron, melakukan curanmor di delapan TKP yang berbeda, yakni; dua lokasi di Kecamatan Tempe, masing-masing di belakang SMPN 1 Sengkang dan belakang SMP 2 Tempe, dua lokasi di Kecamatan Maniangpajo, dua lokasi di Kecamatan Keera dan dua lokasi di Siwa, Kecamatan Pitumpanua.
Saat ini, keduanya sudah diamankan di Mapolres Wajo bersama 3 unit sepeda motor, Yamaha Vega, Yamaha Mio, dan Honda Supra sebagai barang bukti.

Wakapolres Wajo, AKP Zainal Bustar Rabu Malam mengatakan pelaku sudah lama diincar oleh kepolisian, barang bukti berupa sepeda motor Vega diambil di Tanrutedong-Kabupaten Sidrap, sedangkan dua unit lainnya diambil di Anabanua-Kecamatan Maniangpajo.

“Dari 8 kendaraan yang dicuri, baru 3 yang berhasilkan diamankan, polisi masih berupaya mendapatkan informasi terkait keberadaan yang lain. Karena tersangka masih diinterogasi, dan kedua telepon seluler tersangka juga sudah kita sita untuk memudahkan polisi melakukan penyidikan,” tandas Zainal Bustar. (mar/him)

Catatan Admin: Kedua nama yang dimaksud dalam berita tersebut, bukanlah penduduk Repub;ik Lakadaung, melainkan penduduk daerah tetangga (Buloe)